921 Hektare Lahan di Bromo Terbakar Selama 9 Hari, Cuaca Jadi Kendala Pemadaman
Suara Pecari, Pasuruan – Kebakaran lahan di kawasan Gunung Bromo telah berlangsung selama sembilan hari sejak 3 Agustus 2026 dan belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Api telah meluas ke empat wilayah kabupaten di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dengan estimasi luas lahan terbakar mencapai 921,42 hektare.
Fakta Utama Kebakaran Lahan di Bromo
- Waktu kebakaran: mulai 3 Agustus 2026, berlangsung selama 9 hari.
- Luas lahan terbakar: sekitar 921,42 hektare, masih dalam proses pendataan ulang.
- Wilayah terdampak: Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, serta wilayah lain di TNBTS.
- Vegetasi terbakar: cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar.
- Lokasi fokus pemadaman: kawasan Dingklik (Desa Wonokitri, Tosari, Pasuruan) dan P30 (Desa Sariwani, Sukapura, Probolinggo).
- Kendala utama: medan terjal, angin kencang dengan kecepatan 5-37 km/jam, kabut dan asap tebal.
- Operasi water bombing menggunakan air dari Danau Ranupani dan Ranu Regulo.
- Helikopter yang digunakan: tiga helikopter dari BNPB dan TNI AL, namun operasi terkendala visibilitas karena cuaca buruk.
Kendala dalam Pemadaman
Satriyo Nurseno, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, menyatakan bahwa medan yang terjal dan angin kencang menjadi hambatan utama dalam pemadaman api secara manual. Titik api berada di tebing dengan kemiringan tinggi, sehingga sulit dijangkau oleh tim darat.
Selain itu, cuaca berkabut dan kepulan asap yang tebal mengurangi visibilitas, sehingga operasi water bombing dengan helikopter harus dibatasi demi keselamatan penerbangan. Marsma TNI Reza Sastranegara, Komandan Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh, menegaskan prioritas keselamatan menjadi alasan utama pembatasan aktivitas helikopter saat kondisi nol jarak pandang.
Strategi dan Upaya Pemadaman
Tim gabungan dibagi menjadi dua grup untuk penanganan darat di wilayah Pusung Duwur, bagian atas dan bawah kawasan Dingklik, serta pengawasan di titik api P30. Posko personel berlokasi di Kabupaten Malang, tepatnya di samping Bromo Hillside, sebagai pusat koordinasi operasi di lapangan.
Pengambilan air untuk operasi water bombing dilakukan dari dua sumber utama, yaitu Danau Ranupani dan Ranu Regulo. Pemilihan ini mempertimbangkan jarak yang lebih dekat dan kondisi debit air yang mulai menyusut di Danau Ranupani.
Saat ini, ketiga helikopter dari BNPB dan TNI AL dikerahkan untuk pendinginan titik api di wilayah Pakis Bincis, Dingklik, dan P30. Titik api baru juga sempat muncul di kawasan Penanjakan, sehingga operasi pembasahan (wetting) dan water bombing terus dilakukan di lokasi tersebut.
Konteks dan Dampak
Kebakaran di kawasan TNBTS ini tidak hanya merusak ekosistem yang kaya akan vegetasi seperti cemara gunung dan semak belukar, tetapi juga mengancam keanekaragaman hayati serta potensi pariwisata di daerah tersebut. Selain itu, asap kebakaran berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat sekitar.
Upaya pemadaman yang terus berlanjut menunjukkan komitmen berbagai instansi, termasuk BPBD Jawa Timur dan TNI, untuk mengendalikan kebakaran meskipun menghadapi berbagai kendala alam. Informasi terbaru mengenai kondisi kebakaran dan perkembangan pemadaman diharapkan dapat terus dipantau untuk memastikan keselamatan dan pemulihan kawasan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










