Ketahui Wilayah-Wilayah Paling Terdampak El Nino Sepanjang 2026 Menurut BMKG
BMKG: El Nino 2026 Masuki Kategori Kuat, 7 Wilayah Terancam Kekeringan
Suara Pecari, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan serius terkait fenomena El Nino yang diprediksi akan berdampak signifikan pada sejumlah wilayah di Indonesia sepanjang tahun 2026. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengonfirmasi bahwa El Nino 2026 telah memasuki kategori kuat dan diperkirakan berlangsung selama sembilan hingga dua belas bulan. Meskipun demikian, Faisal menekankan bahwa El Nino tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut. “Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” kata Faisal dalam keterangan resmi BMKG, Kamis, 2 Juli 2026.
Wilayah Paling Terdampak El Nino 2026
BMKG mengidentifikasi tujuh wilayah yang diperkirakan paling merasakan dampak El Nino, terutama pada periode puncak musim kemarau antara Juli hingga Oktober 2026. Wilayah-wilayah tersebut meliputi:
| No | Wilayah | Karakteristik Dampak |
|---|---|---|
| 1 | Jawa | Penurunan curah hujan signifikan, risiko gagal panen di sentra padi |
| 2 | Bali | Kekeringan di daerah pertanian dan pariwisata |
| 3 | Nusa Tenggara | Krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan |
| 4 | Sebagian Sumatra bagian selatan | Penurunan debit sungai, kekeringan lahan gambut |
| 5 | Kalimantan bagian selatan | Risiko kebakaran hutan dan lahan gambut tinggi |
| 6 | Sulawesi | Gangguan pasokan air irigasi, ancaman pertanian |
| 7 | Papua bagian selatan | Kekeringan ekstrem, dampak pada ketahanan pangan lokal |
Mekanisme El Nino dan Dampaknya
Faisal menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Kondisi ini mengubah pola sirkulasi atmosfer, menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia, terutama di wilayah selatan. “Musim kemarau merupakan siklus tahunan. Sedangkan El Nino terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau,” ujarnya. Dampak yang paling terasa adalah berkurangnya ketersediaan air, peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara, serta gangguan kesehatan masyarakat akibat kabut asap.
Dampak pada Sektor Pertanian
Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan. BMKG memperingatkan bahwa El Nino dapat mengganggu fase pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan potensi gagal panen akibat defisit air. Wilayah seperti Jawa dan Bali, yang merupakan lumbung pangan nasional, perlu waspada. “Kesiapsiagaan harus dilakukan secara lintas sektor. Risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara, hingga kesehatan masyarakat perlu diantisipasi sejak dini,” kata Faisal. Pemerintah daerah diminta untuk memanfaatkan informasi iklim yang tersedia dan berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis BMKG di wilayah masing-masing.
Kronologi dan Prediksi
- Juli 2026: Awal periode dampak signifikan, penurunan curah hujan mulai terasa di wilayah selatan Indonesia.
- Agustus – September 2026: Puncak dampak El Nino, risiko kekeringan dan kebakaran hutan meningkat drastis.
- Oktober 2026: Mulai transisi menuju musim hujan, namun dampak masih berlanjut di beberapa wilayah.
- November 2026 – Maret 2027: El Nino diperkirakan melemah, namun kewaspadaan tetap diperlukan.
Langkah Mitigasi dan Adaptasi
BMKG mengimbau pemerintah pusat dan daerah untuk segera melakukan langkah-langkah konkret, seperti:
- Mengoptimalkan sistem peringatan dini kekeringan dan kebakaran hutan.
- Menyediakan cadangan air bersih dan bantuan logistik bagi daerah rawan.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya kebakaran lahan.
- Mengatur jadwal tanam dan pola tanam yang adaptif terhadap kondisi kering.
- Memperkuat koordinasi lintas sektor untuk respons cepat.
“Melalui koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, kita dapat meminimalkan dampak buruk El Nino,” tegas Faisal.
Penutup
El Nino 2026 bukanlah sekadar fenomena alam biasa; ia adalah ujian bagi kesiapsiagaan bangsa Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrem. Dengan data dan prediksi yang jelas dari BMKG, sudah saatnya kita bergerak bersama, dari tingkat pusat hingga desa, untuk melindungi masyarakat, ketahanan pangan, dan lingkungan. Semakin cepat kita bertindak, semakin kecil kerugian yang harus kita tanggung. Langit mungkin akan tetap cerah dan panas, namun semangat gotong royong harus tetap membara.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










