Rupiah Kembali Tertekan di Atas Rp17.700 per Dolar AS

Rupiah Kembali Tertekan di Atas Rp17.700 per Dolar AS

Suara Pecari | Nilai tukar rupiah mengalami penurunan signifikan pada akhir pekan ini, kembali melampaui level Rp17.700 per dolar AS. Dalam penutupan perdagangan hari ini, rupiah ditransaksikan di angka Rp17.716, turun sebesar 0,28 persen atau 49 poin dari hari sebelumnya.

Faktor utama yang mempengaruhi pelemahan rupiah ini adalah ketidakpastian terkait prospek perdamaian antara AS dan Iran. Selain itu, kebijakan Iran yang mengenakan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz menambah kekhawatiran investor, berpotensi menggerakkan harga minyak dunia lebih tinggi.

Analis Pasar Keuangan, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa jika harga minyak terus meningkat, dampaknya akan dirasakan pada inflasi dan mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral di seluruh dunia. Ia menambahkan bahwa Bank Sentral AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin hingga akhir tahun ini.

Pengangkatan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru juga diprediksi tidak akan mendorong penurunan suku bunga di AS, yang akan semakin membebani nilai rupiah. Dari dalam negeri, perhatian internasional tertuju pada pidato Presiden Prabowo di DPR, yang dinilai dapat mempengaruhi persepsi investor.

Di tengah situasi ini, upaya pemerintah untuk melakukan intervensi pasar melalui penjualan surat berharga belum berhasil memperkuat rupiah. Arus keluar modal asing dari pasar saham terus meningkat, menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Dengan kondisi yang ada, tantangan bagi perekonomian Indonesia ke depan semakin berat, dan diperlukan langkah-langkah strategis untuk meredam dampak negatif ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan