Konsumsi Pertalite Melonjak Setelah Kenaikan Harga Pertamax pada Juni 2026
Suara Pecari – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat adanya lonjakan signifikan dalam konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax pada Juni 2026. Kenaikan harga Pertamax yang sebelumnya Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026, memicu peralihan penggunaan BBM dari Pertamax ke Pertalite.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI menyampaikan bahwa rata-rata konsumsi Pertalite sebelum kenaikan harga Pertamax tercatat sebesar 75.795 kiloliter (KL) per hari. Namun, setelah harga Pertamax naik, konsumsi Pertalite mengalami peningkatan tajam, mencapai 82.760 KL per hari atau naik 9,19 persen pada pertengahan Juni 2026.
Pada Juli 2026, kenaikan konsumsi Pertalite semakin terlihat dengan pencapaian rata-rata 85.589 KL per hari, naik 12,92 persen dibandingkan periode sebelum kenaikan harga Pertamax. Walaupun pada Agustus 2026 terjadi penurunan konsumsi Pertalite menjadi 84.368 KL per hari, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan sebelum kenaikan harga Pertamax.
Faktor Penyebab Kenaikan Konsumsi Pertalite
Perbedaan harga yang cukup signifikan antara Pertamax dan Pertalite menjadi faktor utama perubahan pola konsumsi BBM masyarakat. Sementara harga Pertamax yang semula Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter, harga Pertalite tetap dipertahankan di angka Rp10.000 per liter. Kondisi ini mendorong sebagian pengguna Pertamax beralih ke BBM bersubsidi seperti Pertalite.
Selain itu, koreksi harga Pertamax pada Agustus 2026 dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter menyebabkan sedikit penurunan konsumsi Pertalite, namun konsumsi BBM subsidi ini tetap berada pada level yang lebih tinggi dibanding sebelum kenaikan harga Pertamax.
Data Konsumsi Pertalite 2026
| Periode | Konsumsi Pertalite (KL/hari) | Persentase Kenaikan |
|---|---|---|
| Sebelum 10 Juni 2026 | 75.795 | – |
| 10 Juni 2026 | 82.760 | 9,19% |
| Juli 2026 | 85.589 | 12,92% |
| Agustus 2026 | 84.368 | 11,31% |
Kesiapan Kuota dan Dampak
Meskipun terjadi lonjakan konsumsi Pertalite, BPH Migas memastikan kuota Pertalite untuk tahun 2026 masih aman. Dari alokasi kuota sebesar 29,27 juta KL, realisasi hingga pertengahan tahun mencapai 18,23 juta KL. Hal ini menunjukkan bahwa stok dan pasokan Pertalite masih mampu memenuhi permintaan yang meningkat akibat peralihan konsumen dari Pertamax.
Kenaikan konsumsi Pertalite ini juga mencerminkan adanya shifting dari BBM nonsubsidi ke subsidi akibat disparitas harga yang cukup besar. Kondisi ini berdampak pada pengelolaan subsidi dan kebutuhan penyesuaian kebijakan BBM agar tetap menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan keberlanjutan pasokan energi nasional.
Dengan adanya perubahan pola konsumsi ini, pemerintah dan BPH Migas perlu terus memantau perkembangan agar dapat mengantisipasi potensi jebolnya kuota subsidi dan mengelola distribusi BBM secara efektif.
Pemahaman terhadap dinamika harga dan konsumsi BBM sangat penting bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mengambil langkah yang tepat dalam pengelolaan energi di Indonesia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










