Gubernur BI Soal Rupiah di Atas Rp 18.000 per Dolar AS: Ini Volatilitas Biasa
Suara Pecari – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menanggapi melemahnya nilai tukar Rupiah yang berada di atas Rp 18.000 per Dolar AS sebagai bagian dari volatilitas pasar yang normal. Pada perdagangan sore hari tanggal 26 Oktober 2026, Rupiah tercatat melemah ke posisi Rp 18.135 per Dolar AS, turun 0,30 persen atau 55 poin dari sebelumnya.
Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Destry Damayanti menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar Rupiah bergantung pada mekanisme pasar yang melibatkan penawaran dan permintaan (supply and demand). Bank Indonesia secara aktif memantau pergerakan tersebut dan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas. Namun, hingga saat ini BI belum mengambil langkah intervensi baru terkait nilai tukar Rupiah.
“Ini volatilitas biasa. Tapi kita akan terus ada, kita lihat akar permasalahannya juga,” ujar Destry dalam kesempatan diskusi di sela-sela acara Danantara TIIF26 pada 26 Oktober 2026.
Tantangan Eksternal dan Neraca Perdagangan
Gubernur BI juga menyoroti tantangan yang berasal dari sektor eksternal, khususnya terkait neraca pembayaran yang dipengaruhi oleh aktivitas ekspor dan impor. Pada kuartal II 2026, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan yang dipicu oleh peningkatan impor, termasuk impor energi.
Dalam upaya menekan impor energi yang berkontribusi pada defisit tersebut, BI mendukung kebijakan mandatori pemanfaatan biodiesel B50 dan bioetanol E20 yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor energi secara signifikan.
Strategi Bank Indonesia
BI menilai bahwa strategi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar adalah dengan meningkatkan nilai ekspor dan mempercepat substitusi impor. Selain itu, BI terus mengembangkan diversifikasi valuta asing melalui mekanisme Local Currency Transaction (LCT) untuk transaksi perdagangan dan investasi lintas negara. Saat ini, Indonesia telah bekerja sama dengan enam sampai tujuh negara, dengan China sebagai mitra utama, menggunakan mata uang lokal masing-masing dalam transaksi yang mencapai sekitar USD 55 miliar.
Kesimpulan
Fluktuasi Rupiah di atas Rp 18.000 per Dolar AS adalah bagian dari volatilitas pasar yang wajar dan dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti defisit neraca perdagangan serta impor energi. Bank Indonesia tetap aktif memantau dan meninjau kondisi pasar sambil mengupayakan langkah-langkah strategis untuk memperkuat neraca pembayaran dan stabilitas nilai tukar Rupiah.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










