Musi Rawas di Tengah Sorotan: Prestasi Budaya, Bakat Muda, dan Ancaman Karhutla

Musi Rawas di Tengah Sorotan: Prestasi Budaya, Bakat Muda, dan Ancaman Karhutla

Suara Pecari, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, kembali menjadi perhatian publik dalam sepekan terakhir. Berbagai peristiwa penting terjadi secara bersamaan, mulai dari penetapan warisan budaya, prestasi di panggung nasional, hingga penanganan kebakaran hutan dan lahan yang mengancam wilayah ini. Kondisi di Musi Rawas mencerminkan dinamika antara pelestarian tradisi, pengembangan sumber daya manusia, dan tantangan lingkungan yang harus dihadapi bersama.

Di bidang kebudayaan, Musi Rawas mencatat prestasi membanggakan. Tari Piring Gelas, tarian tradisional asal daerah ini, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia Tahun 2026 oleh Kementerian Kebudayaan. Penetapan ini diputuskan dalam Sidang Penetapan WBTb Termin I yang berlangsung pada awal Juli 2026. Tari Piring Gelas menjadi satu-satunya usulan dari Kabupaten Musi Rawas yang lolos pada sidang termin pertama. Keunikan tarian ini terletak pada atraksi penari yang menari di atas susunan piring dan gelas tanpa merusaknya. Secara turun-temurun, penari harus perempuan yang masih gadis atau belum menikah. Tarian ini biasanya dipentaskan pada pesta pernikahan, khitanan, acara adat, hingga kegiatan kenegaraan. Dengan pengakuan ini, Musi Rawas semakin memperkuat identitas budayanya di kancah nasional.

Di sisi lain, Musi Rawas juga bersinar melalui talenta mudanya. Kiara Soraya, putri asal Musi Rawas, berhasil melaju ke babak berikutnya dalam ajang D’Academy 8 2026 Indosiar. Kiara yang tergabung dalam Tim Coach Fildan Rahayu dinyatakan aman dan lolos setelah tampil memukau di Top 42 Group 5. Keberhasilan Kiara menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Musi Rawas dan Sumatera Selatan, yang terus memberikan dukungan penuh kepada akademia muda tersebut. Prestasi ini menunjukkan bahwa Musi Rawas tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga memiliki generasi muda yang berbakat di bidang seni.

Namun, di tengah kabar gembira tersebut, Musi Rawas juga menghadapi tantangan serius terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sepanjang bulan Juli 2026, terdapat enam kejadian karhutla di Kecamatan BTS Ulu, Musi Rawas. Polisi berhasil mengamankan satu pelaku pembakaran berinisial NE yang diamankan saat membakar lahan di salah satu kebun. Kapolsek BTS Ulu AKP Fauzan Aziman mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan patroli dan penyelidikan di sejumlah wilayah rawan karhutla. Luas lahan yang terbakar berkisar antara 0,5 hingga 2,5 hektare per kejadian. Pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar karena selain melanggar hukum, tindakan tersebut juga berpotensi memicu kebakaran yang meluas dan mengganggu masyarakat akibat kabut asap.

Ancaman karhutla di Musi Rawas menjadi bagian dari situasi yang lebih luas di Sumatera Selatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mencatat sebanyak 10 kabupaten telah menetapkan status siaga darurat karhutla, termasuk Musi Rawas. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menekankan pentingnya kesiapsiagaan sumber daya, personel, dan peralatan untuk mengantisipasi kejadian kebakaran.

Di tengah upaya penanggulangan karhutla, Musi Rawas juga berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia di sektor perkebunan. Sebanyak 99 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Musi Rawas mengikuti pelatihan intensif budidaya kelapa sawit yang berlangsung pada 14–19 Juli 2026 di Palembang. Pelatihan ini merupakan hasil kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan IPB Training. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan teknis pekebun dan mendorong penerapan praktik perkebunan berkelanjutan. Peserta mendapatkan materi mulai dari regulasi, penggunaan benih unggul, teknik pembibitan, hingga pengendalian hama dan penyakit. Dengan pelatihan ini, diharapkan produktivitas perkebunan rakyat di Musi Rawas dapat meningkat secara signifikan.

Berbagai peristiwa yang terjadi di Musi Rawas dalam waktu singkat menunjukkan bahwa daerah ini memiliki potensi besar di bidang budaya, seni, dan sumber daya alam, namun juga rentan terhadap bencana lingkungan. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan. Penetapan Tari Piring Gelas sebagai warisan budaya takbenda, prestasi Kiara Soraya di D’Academy, serta upaya peningkatan kompetensi pekebun sawit adalah langkah positif yang patut diapresiasi. Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan dan kesiapsiagaan menghadapi karhutla harus terus diperkuat. Dengan sinergi semua pihak, Musi Rawas dapat terus maju tanpa mengorbankan warisan budaya dan kelestarian alamnya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *