Pemilihan Ketum PBNU Digelar Malam Ini, Mekanisme Pemilihan dan 8 Nama Calon yang Masuk Bursa

Pemilihan Ketum PBNU Digelar Malam Ini, Mekanisme Pemilihan dan 8 Nama Calon yang Masuk Bursa

Suara Pecari, JombangPemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan digelar malam ini, Sabtu, 29 Agustus 2026, dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Proses pemilihan ini menjadi agenda utama pada muktamar yang diikuti oleh 2.232 delegasi dari seluruh Indonesia.

Muktamar ke-35 NU mengangkat tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa” dan merupakan forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Pada kesempatan ini, selain pemilihan Ketum PBNU, juga akan dipilih Rais Aam atau Syuriyah, yang merupakan pemimpin tertinggi dalam struktur keulamaan Nahdlatul Ulama.

Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU

Proses pemilihan Ketum PBNU sempat menjadi perdebatan di antara peserta muktamar. Terdapat dua opsi mekanisme pemilihan yang diusulkan dan dibahas secara intens dalam Sidang Komisi Organisasi dan Sidang Pleno Muktamar:

  1. Pemilihan langsung oleh muktamirin dengan sistem satu orang satu suara (one man one vote) yang tetap memerlukan persetujuan Rais Aam terpilih.
  2. Penunjukan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) setelah proses penjaringan yang melibatkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), di mana calon yang layak kemudian dipilih oleh AHWA.

Perdebatan ini mencerminkan dinamika demokrasi internal NU, di mana Ketua PBNU saat ini, KH Ulil Abshar Abdalla, mendukung mekanisme pemilihan langsung oleh muktamirin sebagai tradisi yang telah berlangsung sejak lama. Sementara Ketua PBNU lainnya, KH Fahrur Rozi, mendukung mekanisme penunjukan melalui AHWA untuk menjaga kualitas kepemimpinan.

Setelah diskusi panjang dan berbagai argumentasi, Sidang Pleno III akhirnya memutuskan untuk menggunakan mekanisme pemungutan suara (voting) sebagai jalan keluar apabila musyawarah mufakat tidak tercapai. Keputusan ini diharapkan dapat memastikan proses yang adil dan dapat diterima semua pihak.

Delapan Nama Calon Ketua Umum PBNU

Sejumlah tokoh terkemuka masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU periode mendatang. Delapan nama yang mencuat antara lain:

  • KH Yahya Cholil Staquf
  • KH Abdul Hakim Mahfudz
  • KH Zulfa Mustofa
  • KH Muhammad Yusuf Chudlori
  • KH Abdussalam Shohib
  • KH Abdul Ghaffar Rozin
  • KH Imam Jazuli
  • KH Marsudi Syuhud

Beberapa calon, termasuk KH Zulfa Mustofa bersama empat calon lainnya, menyatakan sikap mendukung mekanisme pemilihan melalui AHWA. Namun, keputusan akhir akan ditentukan melalui proses voting yang akan dilaksanakan malam ini.

Proses dan Latar Belakang

Muktamar ke-35 NU yang digelar sejak 27 Agustus 2026 ini merupakan forum strategis untuk menentukan arah organisasi selama lima tahun ke depan. Pemilihan Ketum PBNU sangat krusial karena posisi ini bertanggung jawab sebagai pelaksana harian dan eksekutor kebijakan organisasi.

Rais Aam atau Syuriyah bertugas sebagai pemimpin keagamaan tertinggi yang menjaga nilai dan pedoman NU, sedangkan Ketum bertindak sebagai pengelola eksekutif organisasi. Perbedaan mekanisme pemilihan antara Rais Aam dan Ketum menjadi salah satu sebab munculnya perdebatan dalam muktamar kali ini.

Lokasi muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, yang merupakan pusat pendidikan Islam dan tradisi NU, juga menjadi saksi sejarah penting bagi perjalanan Nahdlatul Ulama.

Agenda pemilihan ini diperkirakan berlangsung hingga larut malam, dimulai dengan sidang pleno sekitar pukul 19.30 WIB setelah rangkaian sidang komisi terkait program dan rekomendasi organisasi.

Keputusan mekanisme pemilihan yang menggunakan voting diharapkan dapat menghasilkan pemimpin yang sah dan diterima oleh seluruh elemen Nahdlatul Ulama, sehingga organisasi dapat terus menjalankan perannya dalam menjaga marwah dan memberikan khidmah terbaik bagi bangsa dan umat.

Proses ini menunjukkan kematangan demokrasi internal NU dan komitmen untuk menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan organisasi di era modern.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *