Prodi Peperangan Asimetris FSP Unhan dan NTU Bahas Ancaman Perang Asimetris dari Terorisme hingga Cognitive Warfare

Prodi Peperangan Asimetris FSP Unhan dan NTU Bahas Ancaman Perang Asimetris dari Terorisme hingga Cognitive Warfare

Suara Pecari, Jakarta – Program Studi Peperangan Asimetris Fakultas Strategi Pertahanan (FSP) Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) bersama dengan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura menggelar forum Sharing Knowledge pada Rabu, 4 November 2026. Kegiatan ini membahas ancaman perang asimetris yang semakin kompleks, mulai dari terorisme hingga cognitive warfare, yang berdampak pada keamanan nasional dan kawasan Asia Tenggara.

Transformasi Ancaman Keamanan Kontemporer

Dekan FSP Unhan RI, Mayor Jenderal TNI Dr. Oktaheroe Ramsi, menegaskan bahwa ancaman keamanan saat ini tidak lagi terbatas pada konflik militer konvensional. Perang asimetris kini meliputi operasi grey-zone dan cognitive warfare yang menargetkan kohesi sosial dan ketahanan nasional. Ia menyoroti transformasi jaringan terorisme, kejahatan siber, serta ekstremisme berbasis kekerasan di kawasan Asia Tenggara, termasuk pembubaran Jemaah Islamiyah (JI) pada 2024 yang tidak menghilangkan ancaman ideologi dan jaringan sosialnya.

Baca juga:

Menurut Oktaheroe, infiltrasi ancaman kini merambah ruang siber dengan media sosial dan permainan daring sebagai sarana propaganda, indoktrinasi, dan rekrutmen ekstremisme. Oleh karena itu, strategi pertahanan Indonesia perlu beradaptasi dengan penguatan Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), ketahanan ideologi, literasi digital, partisipasi masyarakat, dan diplomasi pertahanan.

Tujuan dan Fokus Forum

Kegiatan ini memiliki tiga sasaran utama:

  • Memperkaya analisis ancaman asimetris pascapembubaran JI.
  • Membedah ancaman siber-ideologis dari perspektif regulator, akademisi, dan militer.
  • Menggali studi kasus pola rekrutmen digital serta strategi mitigasi untuk melindungi generasi muda.

Penguatan Perspektif Akademik dan Kemampuan Berpikir Kritis

Kepala Prodi Peperangan Asimetris FSP Unhan RI, Kolonel Arh Dr. Bambang Utomo, menekankan pentingnya memperkuat perspektif akademik dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam memahami kompleksitas ancaman keamanan kontemporer. Forum ini menjadi ajang strategis untuk bertukar perspektif antara akademisi Indonesia dan Singapura serta menguji pemahaman teoretis melalui pengalaman empiris.

Bambang mendorong mahasiswa untuk aktif berdialog, membangun jejaring akademik internasional, dan memperkaya analisis melalui pertukaran gagasan dengan para peneliti RSIS-NTU. Kemampuan memahami karakter ancaman multidimensional menjadi bekal penting dalam merumuskan strategi pertahanan negara.

Pengalaman Indonesia Menghadapi Terorisme

Dalam sesi pertukaran pengetahuan, delegasi RSIS-NTU memaparkan kajian strategis mengenai perkembangan keamanan Indonesia dan Asia Tenggara. Mahasiswa Program Magister Peperangan Asimetris Unhan RI, Ardianda Aryo Prakoso, membahas tiga kasus penting: Bom Bali 2002, serangan teror Surabaya 2018, dan pembubaran JI pada 2024. Ketiganya menggambarkan perubahan pola jaringan terorisme dan respons negara.

Kasus Bom Bali 2002 menunjukkan pentingnya kerja sama investigasi internasional seperti Operation Alliance. Serangan Surabaya 2018 mengungkap kompleksitas radikalisasi yang melibatkan ikatan keluarga dan jaringan pro-ISIS lokal. Pembubaran JI 2024 menjadi momentum mengkaji perbedaan antara deklarasi pembubaran organisasi dan perubahan jangka panjang ideologi serta jaringan yang masih bertahan.

Baca juga:

Dari sisi kebijakan, materi mengulas perkembangan kerangka hukum antiterorisme Indonesia berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2018, pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan, pemutusan pendanaan terorisme, serta koordinasi antarlembaga. Penanganan ancaman tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga pencegahan dini, penguatan ketahanan masyarakat, reintegrasi, dan literasi digital.

Kolaborasi Strategis Indonesia dan Singapura

Forum ini memperkuat pertukaran perspektif strategis antara Unhan RI dan RSIS-NTU dalam memahami perubahan karakter ancaman keamanan kawasan. Kolaborasi akademik ini diharapkan memperluas wawasan mahasiswa dan menghasilkan analisis serta rekomendasi pertahanan yang relevan dengan kepentingan nasional.

Kegiatan Sharing Knowledge merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia pertahanan agar adaptif, kritis, dan mampu memahami dinamika peperangan modern. Dalam konteks geopolitik global yang berubah, kemampuan membaca ancaman multidimensi menjadi fondasi penting menjaga ketahanan dan keamanan nasional.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *