Pertamax Bisa Tembus Rp 20 Ribu per Liter Akibat Konflik Timur Tengah
Suara Pecari – Harga Pertamax berpotensi mencapai Rp 20.000 per liter seiring melambungnya harga minyak mentah dunia akibat konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. Lonjakan harga minyak ini berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi seperti Pertamax di Indonesia.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menjelaskan bahwa kondisi geopolitik saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan konflik Rusia-Ukraina sebelumnya. Ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan yang dilakukan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, telah memicu ketidakpastian pasokan energi global. Hal ini menyebabkan harga minyak mentah dunia tetap tinggi tanpa ada indikasi penurunan signifikan.
Kenaikan Harga Minyak Global
Pada perdagangan tanggal 10 September 2026, harga minyak mentah Brent mencatatkan kenaikan hingga US$ 108 per barel, level tertinggi sejak Mei 2026. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mencapai harga tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, yakni di kisaran US$ 102,48 per barel. Lonjakan tajam ini disebabkan oleh eskalasi konflik antara AS dan Iran serta aktivitas militan di sekitar jalur pelayaran strategis Selat Bab al-Mandab.
Dampak pada Harga Pertamax di Indonesia
Harga Pertamax yang saat ini berada di kisaran Rp 15.950 hingga Rp 16.250 per liter di wilayah Jabodetabek berpotensi naik drastis apabila harga minyak dunia tetap tinggi. Eko Ricky Susanto mengungkapkan bahwa jika kondisi geopolitik tidak kunjung membaik, harga Pertamax dapat berkisar antara Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per liter. Kenaikan ini merupakan dampak langsung dari kenaikan harga minyak global yang belum menunjukkan tren penurunan.
Konteks dan Implikasi
Ketegangan di Timur Tengah yang berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia, sehingga mendorong para pedagang membeli minyak mentah sebagai langkah antisipasi. Permintaan yang meningkat ini secara otomatis menaikkan harga energi global, termasuk harga BBM di Indonesia. Situasi ini menjadi penting bagi konsumen dan pelaku usaha karena harga bahan bakar memengaruhi biaya transportasi dan distribusi barang, yang pada akhirnya berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat.
Hingga saat ini, belum ada indikasi penurunan harga minyak dunia secara signifikan, sehingga masyarakat dan pemerintah diharapkan bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga BBM lebih lanjut. Upaya diplomasi dan stabilisasi geopolitik menjadi faktor kunci untuk mengendalikan harga energi global di masa mendatang.
Pemantauan terhadap perkembangan konflik dan harga minyak dunia akan terus dilakukan agar informasi yang diberikan kepada masyarakat tetap akurat dan terpercaya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










