Matheus Cunha Alami Hari Terberat Usai Brasil Tersingkir dari Piala Dunia 2026

Matheus Cunha Alami Hari Terberat Usai Brasil Tersingkir dari Piala Dunia 2026

Suara Pecari, Matheus Cunha, penyerang Manchester United yang menjadi andalan Brasil di Piala Dunia 2026, harus menerima kenyataan pahit setelah timnya tersingkir di babak 16 besar oleh Norwegia. Kekalahan 1-2 di MetLife Stadium, New Jersey, pada Minggu (5/7/2026) membuat Brasil gagal melaju ke perempat final untuk pertama kalinya sejak 1990. Cunha, yang tampil impresif sepanjang turnamen dengan tiga gol, tak kuasa menahan kesedihan usai pertandingan.

“Tanpa keraguan, hari ini adalah hari terberat dalam hidup saya secara profesional,” ujar Matheus Cunha dengan mata berkaca-kaca. “Kami memiliki peluang tetapi tidak bisa memanfaatkannya, sementara mereka bisa. Sulit untuk memahami semuanya, tetapi itulah sepak bola. Ada banyak kesedihan di ruang ganti, banyak tangisan, banyak rasa sakit. Yang terburuk adalah kami mengecewakan banyak orang, dan itu yang paling menyakitkan.”

Pertandingan dimulai dengan intensitas tinggi. Brasil mendapat hadiah penalti di babak pertama setelah Matheus Cunha dilanggar di kotak terlarang. Namun, Bruno Guimarães yang maju sebagai eksekutor gagal menaklukkan kiper Norwegia, Orjan Nyland, yang mampu menebak arah tendangan. Kegagalan itu menjadi titik balik yang membuat Brasil kehilangan momentum.

Norwegia yang mengandalkan duet Erling Haaland dan Martin Ødegaard, tampil disiplin dan efektif. Haaland, yang relatif diam sepanjang laga, melejit di menit-menit akhir. Pada menit ke-79, ia mencetak gol pertama memanfaatkan umpan silang, lalu menggandakan keunggulan di menit ke-90 dengan tendangan keras yang tak mampu dihalau kiper Brasil. Neymar memperkecil ketertinggalan melalui penalti di masa injury time, namun itu tak cukup menyelamatkan Brasil.

Matheus Cunha menjadi salah satu pemain yang paling menonjol bagi Brasil di turnamen ini. Ia memulai semua pertandingan kecuali laga pembuka melawan Maroko, dan berhasil mencetak tiga gol. Kehadirannya di lini depan memberikan ancaman konstan bagi lawan. Namun, di laga krusial melawan Norwegia, ia tidak mampu mengubah nasib tim. Pelatih Carlo Ancelotti bahkan menarik Cunha di babak kedua untuk memberi kesempatan pada Endrick, namun perubahan itu tidak membuahkan hasil.

Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Brasil, yang tidak pernah melewati enam turnamen tanpa gelar juara. Terakhir kali mereka juara adalah pada 2002. Untuk Matheus Cunha dan rekan-rekannya, kegagalan ini akan menjadi kenangan pahit yang sulit dilupakan. “Kami melakukan yang terbaik, tetapi kami kehilangan mimpi,” ujar Casemiro, mantan gelandang Manchester United yang juga tampil di laga itu. “Kami mengecewakan semua rakyat Brasil. Kami akan selalu dikenang sebagai generasi yang tidak memenangkan Piala Dunia.”

Brasil harus menunggu hingga 2030 untuk kesempatan berikutnya, sementara Norwegia untuk pertama kalinya melaju ke perempat final Piala Dunia. Bagi Matheus Cunha, perjalanan di Piala Dunia 2026 mungkin telah berakhir, tetapi kariernya masih panjang. Pengalaman pahit ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi sang penyerang untuk bangkit dan membawa Brasil kembali ke puncak sepak bola dunia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *